Jumat, 21 Maret 2014

Teori Psikologi Pembelajaran Oleh Fred Simmons Keller

MAKALAH PSIKOLOGI BELAJARAN
TEORI FRED SIMMONS KELLER DAN PENERAPAN TEORI FRES SIMMONS KELLER DALAM PEMBELAJARAN






Dosen Pengampu : Niken Wahyu Utami, S.Pd. Si.

Oleh :
1.          Febriyanti Nurul Khasanah     (13144100011)
2.          Nurul Fauziyah                       (13144100012)
3.          Noviana Hani Orischa             (13144100033)



PENDIDIKAN MATEMATIKA A1 SEMESTER II
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga dapat terselesaikannya penulisan makalah PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MENURUT TEORI FRED SIMMONS KELLER ini dengan baik.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Psikologi Pendidikan di Universitas PGRI Yogyakarta, serta melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pembelajaran Matematika untuk membantu mahasiswa dalam menemukan dan memahami peserta didiknya kelak terutama saat mengajar, baik dari segi praktis maupun secara konsepnya. Makalah ini disusun sesuai dengan kompetensi yang harus terselesaikan di mata kuliah Psikologi Pembelajaran Matematika ini, sehingga memudahkan mahasiswa untuk mempelajari masalah Psikologi menurut teori yang dikemukakan oleh Fred Simmons Keller yang merupakan salah satu dari pengemuka psikologi pembelajaran.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan penyusunan makalah ini. Kepada Program Study Matematika UPY yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun makalah ini. Terlebih kepada ibu Niken Wahyu Utami, S.Pd. Si. yang telah memberikan dukungan meterial sehingga penulisan makalah ini dapat terlaksana. Ucapan terimakasih yang tiada terkira juga kami sampaikan kepada pihak-pihak lain yang telah membantu dalam penyusunan yang tidak dapat kami sebut satu persatu.
Tentunya tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan dan perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Yogyakarta, 28 Februari 2014
Penyusun,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................   i
KATA PENGANTAR ................................................................................   ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................  iii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................  1
A.    Latar Belakang .................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah .............................................................................. 1
C.     Batasan Masalah ................................................................................ 1
D.    Tujuan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
A.    Riwayat Hidup Fred Simmons Keller ............................................... 3
B.     Teori Yang Dikemukakan Fred Simmons Keller ................................. 7            
C.     Implikasi Teori Fred Simmons Keller .................................................. 11
BAB III PENUTUP........................................................................................  15




BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya – upaya dalam mengorganisasi lingkungan supaya terjadi kegiatan belajar pada diri siswa. Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan, dan untuk itu guru perlu memahami mengenai beberapa teori pembelajaran. Pada hakikatnya belajar merupakan proses perubahan perilaku, dimana perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat menetap, perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi transaksional antara guru dan siswa dimana dalam proses tersebut bersifat timbal balik. Kemudian banyak para ahli yang membahas serta menghasilkan berbagai teori. Kemudian teori - teori itu diterapkan dalam kehidupan manusia. Namun dalam pembahasan makalah ini, hanya akan membahas bagaimana teori pembelajaran menurut Fred Simmons Keller.   
B.            Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan mengangkat tentang ;
1.    Bagaimana riwayat hidup Fred Simmons Keller ?
2.    Apa teori yang dikemukakan oleh Fred Simmons Keller?
3.    Apa bentuk implikasi dari teori Fred Simmons Keller dalam proses pembelajaran?
C.           Batasan Masalah
Dalam pembahasan masalah penulis membatasi ruang lingkup masalah hanya kepada tiga aspek yang ada pada rumusan masalah



D.           Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.   Untuk mengetahui riwayat hidup tantang Fred Simmons Keller.
2.   Untuk menambah pemahaman dan wawasan tentang teori tentang yang dikemukakan Fred Simmons Keller.
3.   Untuk mengetahui bentuk implikasi dari teori Fred Simmons Keller dalam proses pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Riwayat Hidup Fred Simmons Keller
Fred Simmons Keller dilahirkan pada tanggal 2 Januari 1899, di Montgomery County, sebuah wilayah kecil di pedesaan negara bagian New York. Freed Simmons Keller meruapakan putra sulung Minnie Simmons Van Derveer dan Vrooman Barney Keller.
Pendidikannya sempat terputus akibat perubahan cukup kontinyu dari keluarga. Dia meninggalkan sekolah tinggi untuk menjadi telegraf untuk Western Union Telegraph Company di Saranac Lake, New York.
Selama Perang Dunia II  Fred Simmons Keller mendaftarkan diri di Angkatan Darat  Amerika Serikat pada tahun 1918 yang  melayani di artileri di Carolina Selatan.Kemudian beliau pergi ke Prancis dan Jerman dengan tentara pendudukan. Pada tahun 1919 ia mengundurkan diri sebagai sersan dan kembali ke Amerika Serikat dan  pergi untuk belajar di Goddard Seminary di Barre,  Vermont.
Paska kehilangan sekolah karena kegagalan untuk menghadiri kapel dan pendidikan jasmani kelas, beliau bergabung dengan Tufts College pada tahun 1920. Kemudia beliau bekerja selama satu tahun dalam Journal of Andover, Massachusetts,dan kembali ke Universitas, dengan psikologi sebagai bunga utamanya dan sempat menikah.
Fred Simmons Keller lulus pada tahun 1926 di Tufts College. Pada tahun yang sama, beliau memulai studi pascasarjana di Harvard. Kemudiam pada tahun 1928 beliau memperoleh gelar Master dan mendapat gelar Doktor (Ph.D) pada tahun1931, baik dalam psikologi di Harvard University. Selama periode ini beliau mengajar di Tufts College dan menjadi asisten laboratorium dan guru di Harvard College.
Di Harvard Fred Simmons Keller memiliki teman dari behavioris psikolog yang bernama Burrhus Frederic Skinner  dan mereka juga tinggal bersamai Diantara para pendukung Amerika pertama behaviorisme yang menekankan peran lingkungan dan acara budaya media sebagai pembentuk perilaku manusia.
Pada tahun 1931, beliau meninggalkan Harvard dan bekerja selama tujuh tahun sebagai instruktur Psikologi di Universitas Colgate dan pada 1932 beliau berserai dan menikah lagi pada tahun 1936 dengan wanita yang bernama Mrs Frances Scholl dan memiliki dua anak yang bernama Anne dan John V. Keller.
Pada tahun 1937, ia menulis buku pertamanya Definisi Psikologi (Definisi Psikologi) dan 1938 menerima instruktur beasiswa di Columbia University, di mana ia memegang berbagai posisi hingga pensiun.
Pada tahun 1940 mengembangkan teknik pedagogis baru untuk mengajar kode Morse untuk militer, didasarkan pada penelitian ke dalam perilaku pada tahun 1943  Angkatan Darat AS secara resmi mengadopsi teknik ini.
Pada tahun 1950 diterbitkan Prinsip Psikologi (Principles of Psychology), beliau bekerja sama dengan William N. Schoenfeld, kemudian  pada tahun 1954 beliau belajar tentang teori pembelajaran yaitu pengembangan dari analisis eksperimental perilaku dan transmisi penekanan pada metode eksperimen.
Pada tahun 1961 beliau datang ke Brazil sebagai profesor tamu di Universitas São Paulo (USP) dan menetap satu tahun di Brazil dan  pada tahun 1964 untuk mengajar di University of Brasilia (UNB), di mana ia tetap hanya beberapa bulan. kemudian pada tahun 1964, setelah 26 tahun bekerja beliau pension ketika ia menerima gelar Profesor Emeritus Psikologi.
Setelah pensiun, ia bekerja tiga tahun ke depan di Arizona State University, di mana ia terus mengembangkan Sistem Personalized Instruksi (PSI), PSI adalah metode pembelajaran pedagogis secara individu yang diawasi oleh guru yang berpengalaman dan memiliki dampak yang signifikan terhadap pendidikan sains di tingkat universitas.
Pada tahun 1967 ia bekerja di Institute for Behavioral Research in Silve Spring, Maryland yang masih menerapkan sistem pernyataan PSI dan pada tahun 1968 beliau menghabiskan dua tahun sebagai dosen tamu di Departemen Psikologi di Western Michigan University
Pada tahun 1974 Fred Simmons Keller pergi ke Georgetown University, menjadi konsultan untuk Personalized lnstruksi dan Distinguished Visiting Psikolog dan tahun 1976  tinggal di Chapel Hill . Di kota ini, didedikasikan hampir secara eksklusif untuk menulis dan berpartisipasi dalam berbagai pertemuan ilmiah.
Fred Simmons Keller meninggal pada tanggal 2 Februari 1996 saat berusia 97 tahun, di Chapel Hill, North Carolina.

B.            Teori Yang Dikemukakan Fred Simmons Keller
Belajar menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diamati, sedangkan perilaku dan belajar dapat diubah oleh kondisi lingkungan. Tingkah laku bukanlah sekedar respon terhadap stimulus, tetapi merupakan suatu tindakan yang disengaja atau operant. Operant ini dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya.
Jadi operant conditioning atau operant lerning itu melibatkan pengendalian konsekuensi. Tingkah laku ialah perbuatan yang dilakukan seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku ini terletak diantara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi).
Modifikasi perilaku menggunakan teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku seseorang, seperti mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan. Salah satu cara untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan; rasio lima pujian untuk setiap satu keluhan yang umumnya dipandang sebagai efektif dalam mengubah perilaku dalam cara yang dikehendaki dan bahkan menghasilkan kombinasi stabil. Prinsip penguatan yang menerangkan pembentukan, memelihara, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan.
Metode-metode operant conditioning mencakup: perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, dan pencontohan. Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. Penghapusan, adalah apabila suatu respons terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penguatan berguna untuk memperkuat perilaku tertentu yang diharapkan. Penguatan dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Penguatan yang positif
Kalau penyajian satu kejadian yang mengikuti sebuah operan meningkatkan kemungkinan bagi operan itu untuk muncul dalam situasi yang sama, psikolog menyebutkan untuk proses dan konsekuensi ini sebagai penguatan positif. Konsekuensi atau akibat yangditimbulkannya juga disebut penguatan positif.
2.      Penguatan yang negative
Kalau penghapusan satu kejadian yang mengikuti sebuah operan meninggikan kemungkinannya bahwa operan akan muncul dalam situasi yang sama, maka untuk proses dan konsekuensi yang muncul dinamakan penguatan negatif. Konsekuensi/akibat yang ditimbulkannya juga dinamakn penguat negatif. Psikolog membedakan ada dua jenis penguatan negatif , yaitu kondisioning lari (escape) dan kondisioning menghindar (avoidance). Selama terjadinya kondisioning melarikan diri, frekuensi dari operan ditingkatakan dibawah pengaruh keadaan yang sama, karena hal itu akan menghentiakan kejadian yang berjalan terus. Sedangkan selama terjadinya kondisioning menghindar, frekuensi dari operan menjadi naik/tinggi dalam satu keadaan tertentu, karena operan itu menunda atau mencagah munculnya suatu kejadian (yang dianggap tidak menyenagkan).
Penguat positif dan negatif seringkal dibedakan menjadi dua pembagian yang umum yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Sebuah penguat dikatakan intrinsik bilaman perilaku yang akan diperkuat itu telah diperkuat oleh dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, respons itu sndiri sudah merupakan sumber dan perasaan nyaman, dan tindakannya itu secara otomatis diperkuat setiap kali muncul. Beberapa perilaku yang berbeda mugkin secara intrinsik mempunyai sifat memperkuat.
Sebagian besar dari perilaku yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-harinya tidaklah secara intrinsik merupakan hal yang memperkuat (reinforcing), tetapi lebih banyak diperkuat oleh konsekuensi yang datang dari luar dirinya, yang eksternal atau ekstrinsik. Secara intrinsik, kejadian yang memuaskan seperti itu dapat dipergunaka untuk mengajarkankebiasaan lainnya. Kegiatan yang dapat memuaskan rasa ingin tahu, atau menyediakan rangsang indra merupakan satu penguat yang kuat terhadap respons manusia.
Penguat intrinsik tegantung kepada orang lain seringkali dinamakn sebagai penguat sosial. Mungkin beberapa penguat sosial bukanlah hal yang dipelajari, sedangkan lainnya dipelajari. Tampaknya besar kemungkinannya bahwa manusia dilahirkn sudah membawa nilai untuk tersenyum, memeluk dan mengucapkan dengan nada menghibur, tidak menyulai tanda ketegangan dan teriakan. Pada waktu yang bersamaan, orang juga belajar untuk menghargai ungkapan kata yang memuji-muji misalnya bagus atau hebat. Memang penguat sosial ini cenderung untuk secara luar biasa mempengaruhi modifikasi perilaku manusia.
Operant conditioning memiliki unsur rangsangan atau stimuli respond an konsekuensi. Stimuli (tanda/syarat) bertindak sebagai pemancing respon, sedangkan konsekuensi tanggapan dapat bersifat positif atau negatif, namun keduanya memperkukuh atau memperkuat (reinforcement). Banyak respon yang tidak hanya dipancing stimuli tetapi dapat dikondisikan pada stimuli lain. Respon ini adalah kategori perilaku pertama, disebut respondent behavior karena perilaku muncul sebagai respon atas stimuli. Selanjutnya dapat muncul kategori perilaku kedua (perilaku yang tidak dipancing stimuli), yang disebut operant behavior, sebab telah dikerjakan oleh pembelajar.
Generalisasi adalah pola merespon yang dilakukan individu terhadap lingkungan atau stimuli serupa, sedangkandiferensiasi adalah pola merespon individu dengan cara mengekang diri untuk tidak merespon karena ada perbedaan antar dua situasi serupa meski tidak sama, yang sebenarnya sesuai direspon. Menggeneralisasi berarti merespon situasi serupa, sedangkan mendeferensiasi berarti merespon dengan cara membedakan antara situasi saat dua respon identik yang tidak sesuai dimunculkan.
Prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning secara sederhana adalah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi hal-hal apa yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah laku yang akan dibentuk.
2.      Menganalisis, dan selanjutnya mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Komponen-komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya tingkah laku yang dimaksud.
3.      Berdasarkan urutan komponen-komponen itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce (hadiah) untuk masing-masing komponen itu.
4.      Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan menggunakan urutan komponen-komponen yang telah disusun. Kalau komponen pertama telah dilakukan maka hadiahnya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen tersebut cenderung untuk sering dilakukan. Kalau ini sudah terbentuk dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (komponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah). Demikian berulang-ulang sampai komponen kedua itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk.
Dalam kehidupan sehari-hari orang serungkali tidak menyadari bahwa dia telah melaksanakan aturan kondisioning operan ini. Banyak individu, seperti misalnya dalam keluarga Teller saling mengajarkan sesuatu pada anggota keluarga lainnya tanpa mereka menyadarinya.
Penerapan Operant Conditioning dalam pendidikan dikemukakan oleh Fred Keller (1968) dengan judul kegiatan self-paced learning. Guru merancang mata pelajaran yang dilengkapi bahan bacaan untuk dikaji pebelajar. Ketika pebelajar merasa siap diuji, ia menempuh tes agar lulus pada penggalan belajar yang telah ditempuhnya. Jika lulus, ia maju kepenggalan berikutnya. Jadi pebelajar sendiri yang menetapkan kecepatan dan jangka waktu belajarnya.
Program-program Keller menggabungkan prosedur-prosedur pembelajaran modifikasi tingkah laku. Program tersebut menekankan kepada individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa dalam mencapai tujuan, modifikasi prosedur-prosedur pembelajaran didasarkan kepada hasil evaluasi-evaluasi tersebut dan penggunaan penguatan-penguatan positif (positif reinforcement) secara sistematis untuk merangsang dan menjaga kemajuan yang diinginkan. Selain itu para pengajar dapat menggunakan diskusi kelompok kecil dan presentasi kelompok besar pada saat-saat tertentu selama kursus berlangsung.
Keller pernah menerapkan metode operant conditioning di salah satu Universitas di Brazil pada sebuah kelompok kursus. Pada waktu itu seluruh mahasiswa pada saat pertemuan diberi penjelasan secara terperinci mengenai kursus tersebut. Mereka diberi tahu bahwa mereka akn belajar menurut kecepatan masing-masing selama kursus. Mungkin bagi beberapa siswa untuk menyelesaikan kursus tersebut kurang dari satu semester, sedangkan lainnya lebih dari satu semester. Tingkat dari kursus didasakan kepada jumlah unit yang telah mereka peroleh. Terdapat suatu kombinasi tugas-tugas bacaan bebas di proyek laboratorium. Juga diadakan pertemuan reguler dengan siswa ang telah menyelesaikan kursusnya, kemudian diminta mendemonstrasikan ketrampilannya dalam rangka membantu siswa- siswa yang sedang belajar, mengadakan kontak dengan asisten laboratorium, berdiskusi dalam kelompok kecil yang juga mengikuti kuliah khusus yang dipilih dan demonstrasi-demonstrasi.
Kursus-kursus untuk satu semester dipecah menjadi 30 unit yang tersusun dari tugas-tugas rumah dan latihan di laboratorium. Para siswa dituntut untuk lulus tes ketuntasan pada setiap unit sebelum mereka melanjutkan ke unit berikutnya. Mereka yang tidak lulus tes ini disarankan untuk mengambil remedial dari unit tersebut. Kuliah khusus dan demonstrasi dilangsungkan apabila sejumlah mahasiswa telah lulus dari suatu unit dan mempersiapkan diri ikut kuliah khusus atau demonstrasi tersebut. Mereka tidakwajib mengikuti kegiatan ini, sifatnya hanya untuk memotivasi siswa-siswa dan memungkinkan siswa untuk mengadakan explorasi - explorasi pada bidang - bidang yang diminatinya.
Tes materi dilaksanakan sampai siswa telah merasa menguasai suatu unit tertentu. Umpan balik segera diberikan dari hasil tersebut dan informasi ini digunakan untuk mendiagnosa kesulitan-kesulitan belajar siswa. Yang paling penting adalah tes yang diberikan pada setiap akhir unit dari 30 unit itu digunakan untuk menentukan apakah siswa telah menguasai isi dari unit tersebut atau belum.
Keller menunjukkan pula bahwa peranan guru pada programnya sangat beda dengan kelas-kelas tradisonal. Ia mencirikan bahwa guru-guru konvensional sering bertindak sebagai “pembuat atraksi di kelas (classroom entertainer), expositor, critic dan debator”. Sebaliknya Keller menjelaskan bahwa guru-gurunya terutama bertindak sebagai educational engeneers dan sebagai manager contingency bagi seluruh siswanya dan tidak hanya sebagai fasilitator yang sukses bagi sejumlah kelas siswa, seperti halnya dalam kelas tradisional.
Hasil-hasil yang didapat keller dan kawan-kawannya yang menggunakan pendekatannya. Dalam beberapa hal sesuai dengan prosedur-prosedur, siswa-siswa diberikan ujian yang sama seperti yang dilakukan kepada sekelompok siswa pada suatu kursussekolah tradisional. Tidak seperti pada kursus tradisional tadi dimana skor siswa diperoleh dalam distribusi normal, prosedur Keller memberikan hasil suatu perbandingan skor A dan B yang tinggi, yang lebih penting lagi siswa-siswa Keller juga secara konsisten telah sukses mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang ditentukan.
Selain itu dia mengatakan bahwa siswa-siswanya sangat menyenangi pengalaman-pengalaman pendidikannya dan telah merasakan bahwa mereka telah mencapai pengertian lebih mendalam tentang isi/materi daripada yang dicirikan oleh pengalaman-pengalaman pada kelas tradisional.
Keller menyatakan bahwa siswa dapat bertindak lebih baik didalam kelasnya daripada yang diperkirakan. Hal ini bisa terjadi apabila kita dengan cermat menetukan tujuan pendidikan secara sistematis menggunakan tes-tes untuk memberikan umpan balik bagi siswa sesuai dengan kemajuannya menuju tujuan belajar mereka. Keller menyarankan bahwa kuncinya terletak pada penyajian contingency dan reinforcement yang tepat/benar.
Teori pembelajaran operant conditioning ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari teori operant conditioning ini adalah:
  1. Siswa bisa benar – benar memahami suatu pelajaran
  2. Siswa lebih termotivasi untuk mengembangkan kemampuannya
  3. Siswa tidak merasa tertekan dan bisa belajar dengan tenang
Sedangkan kekurangan dari teori operant conditioning ini adalah:
  1. Tidak bisa memastikan kapan siswa bisa benar – benar memahami pembelajaran
  2. Terjadi kesenjangan waktu antar siswa dalam memahami pelajaran
  3. Ada kemungkinan terdapat siswa yang menyepelekan materi pelajaran

C.           Implikasi Teori Fred Simmons Keller
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa dalam kegiatan pembelajaran pendidik memberikan arahan kepada peserta didik untuk berfikir cepat dan tepat. Selain itu, pendidik juga dapat menggunakan metode pembelajaran yang bisa mengubah kebiasaan peserta didik menjadi lebih baik. Pendidik seharusnya juga dapat memperhitungkan antara rangsang yang diberikan terhadap respons peserta didik. Apabila tidak mampu dilakukan dalam satu kali pemberian rangsangan maka harus dilakukan beberapa kali sampai tujuan untuk mengubah kebiasaan peserta didik dapat tercapai. Seperti misalnya, mengubah kebiasaan peserta didik yang malas menjadi rajin. Kemudian dilakukan evaluasi untuk menentukan besarnya keberhasilan dan dampak yang ditimbulkan dari metode yang diterapkan tersebut
Beberapa aplikasi teori belajar Keller dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit yang terkecil
2.      Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan
3.      Hadiah diberikan setelah menyelesaikan tugas
4.      Dalam pembelajaran menggunakan metode diskusi atau presentasi
5.      Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku yang baik
6.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya
7.      Memberi bimbingan kepada siswa khususnya kepada siswa yang belum bisa memahami materi yang diberikan
8.      Tidak memaksakan kemampuan berfikir cepat kepada siswa
BAB III
PENUTUP

A.           KESIMPULAN
Operant conditioning atau operant lerning itu melibatkan pengendalian konsekuensi. Tingkah laku ialah perbuatan yang dilakukan seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku ini terletak diantara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi).
Modifikasi perilaku menggunakan teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku seseorang, seperti mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan. Salah satu cara untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan.
Program-program Keller menggabungkan prosedur-prosedur pembelajaran modifikasi tingkah laku. Program tersebut menekankan kepada individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa dalam mencapai tujuan, modifikasi prosedur-prosedur pembelajaran didasarkan kepada hasil evaluasi-evaluasi tersebut dan penggunaan penguatan-penguatan positif (positif reinforcement) secara sistematis untuk merangsang dan menjaga kemajuan yang diinginkan. Selain itu para pengajar dapat menggunakan diskusi kelompok kecil dan presentasi kelompok besar pada saat-saat tertentu selama pembelajaran berlangsung.
Keller menyatakan bahwa siswa dapat bertindak lebih baik didalam kelasnya dari pada yang diperkirakan. Hal ini bisa terjadi apabila kita dengan cermat menetukan tujuan pendidikan secara sistematis menggunakan tes-tes untuk memberikan umpan balik bagi siswa sesuai dengan kemajuannya menuju tujuan belajar mereka. Keller menyarankan bahwa kuncinya terletak pada penyajian contingency dan reinforcement yang tepat/benar.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber: http://www.artikelkedokteran.com/774/terapi-perilaku.html
https://www.facebook.com/notes/henrikus-yorath/psikoterapi-terapi-perilaku-behaviour-


0 komentar:

Posting Komentar