MAKALAH PSIKOLOGI BELAJARAN
TEORI FRED SIMMONS KELLER DAN PENERAPAN TEORI
FRES SIMMONS KELLER DALAM PEMBELAJARAN
Dosen Pengampu : Niken Wahyu Utami, S.Pd. Si.
Oleh :
1.
Febriyanti Nurul Khasanah (13144100011)
2.
Nurul Fauziyah (13144100012)
3.
Noviana Hani Orischa (13144100033)
PENDIDIKAN
MATEMATIKA A1 SEMESTER II
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga dapat terselesaikannya penulisan
makalah PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MENURUT TEORI FRED SIMMONS KELLER ini dengan
baik.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran Psikologi Pendidikan di Universitas PGRI Yogyakarta, serta
melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pembelajaran Matematika untuk membantu
mahasiswa dalam menemukan dan memahami peserta didiknya kelak terutama saat
mengajar, baik dari segi praktis maupun secara konsepnya. Makalah ini disusun
sesuai dengan kompetensi yang harus terselesaikan di mata kuliah Psikologi
Pembelajaran Matematika ini, sehingga memudahkan mahasiswa untuk mempelajari
masalah Psikologi menurut teori yang dikemukakan oleh Fred Simmons Keller yang
merupakan salah satu dari pengemuka psikologi pembelajaran.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan dukungan penyusunan makalah ini. Kepada Program Study Matematika
UPY yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun makalah ini. Terlebih
kepada ibu Niken Wahyu Utami, S.Pd. Si. yang telah
memberikan dukungan meterial sehingga penulisan makalah ini dapat terlaksana.
Ucapan terimakasih yang tiada terkira juga kami sampaikan kepada pihak-pihak
lain yang telah membantu dalam penyusunan yang tidak dapat kami sebut satu
persatu.
Tentunya tulisan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan demi
kesempurnaan dan perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga makalah
ini dapat bermanfaat.
Yogyakarta, 28 Februari 2014
Penyusun,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A.
Latar Belakang
................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah
.............................................................................. 1
C.
Batasan Masalah
................................................................................ 1
D.
Tujuan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
A.
Riwayat Hidup Fred Simmons Keller ............................................... 3
B.
Teori Yang Dikemukakan Fred Simmons Keller ................................. 7
C.
Implikasi Teori Fred Simmons Keller .................................................. 11
BAB III PENUTUP........................................................................................ 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Proses
pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya – upaya dalam mengorganisasi
lingkungan supaya terjadi kegiatan belajar pada diri siswa. Seorang guru
profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu
dikembangkan, dan untuk itu guru perlu memahami mengenai beberapa teori
pembelajaran. Pada hakikatnya belajar merupakan proses perubahan perilaku,
dimana perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat menetap,
perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sedangkan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi
transaksional antara guru dan siswa dimana dalam proses tersebut bersifat
timbal balik. Kemudian banyak para ahli yang
membahas serta menghasilkan berbagai teori. Kemudian teori - teori itu
diterapkan dalam kehidupan manusia. Namun dalam pembahasan makalah ini, hanya
akan membahas bagaimana teori pembelajaran menurut Fred Simmons Keller.
B.
Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini penulis akan
mengangkat tentang ;
1. Bagaimana riwayat hidup Fred Simmons
Keller ?
2. Apa teori yang dikemukakan oleh Fred
Simmons Keller?
3. Apa bentuk implikasi dari teori Fred
Simmons Keller dalam proses pembelajaran?
C.
Batasan Masalah
Dalam pembahasan masalah penulis
membatasi ruang lingkup masalah hanya kepada tiga aspek yang ada pada rumusan
masalah
D.
Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini adalah :
1.
Untuk mengetahui riwayat hidup tantang Fred Simmons Keller.
2.
Untuk menambah pemahaman dan wawasan tentang teori tentang
yang dikemukakan Fred Simmons Keller.
3.
Untuk mengetahui bentuk implikasi dari teori Fred Simmons
Keller dalam proses pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat
Hidup Fred Simmons Keller
Fred Simmons Keller dilahirkan pada tanggal
2 Januari 1899, di Montgomery County, sebuah wilayah kecil di pedesaan negara
bagian New York. Freed Simmons Keller meruapakan putra sulung Minnie Simmons Van Derveer dan
Vrooman Barney Keller.
Pendidikannya sempat terputus akibat
perubahan cukup kontinyu dari keluarga. Dia meninggalkan sekolah tinggi untuk
menjadi telegraf untuk Western Union Telegraph
Company di Saranac Lake, New York.
Selama Perang Dunia II Fred Simmons Keller mendaftarkan diri di
Angkatan Darat Amerika Serikat pada
tahun 1918 yang melayani di artileri di
Carolina Selatan.Kemudian beliau pergi ke Prancis dan Jerman dengan tentara
pendudukan. Pada tahun 1919 ia mengundurkan diri sebagai
sersan dan kembali ke Amerika Serikat dan pergi untuk belajar di Goddard Seminary di
Barre, Vermont.
Paska kehilangan sekolah karena kegagalan
untuk menghadiri kapel dan pendidikan jasmani kelas, beliau bergabung dengan Tufts College pada
tahun 1920. Kemudia beliau bekerja selama satu tahun
dalam Journal of Andover, Massachusetts,dan kembali ke Universitas, dengan
psikologi sebagai bunga utamanya dan sempat menikah.
Fred Simmons Keller lulus pada tahun 1926 di Tufts College. Pada
tahun yang sama, beliau memulai studi pascasarjana di Harvard. Kemudiam pada
tahun 1928 beliau memperoleh gelar Master dan mendapat gelar Doktor (Ph.D) pada
tahun1931, baik dalam psikologi di Harvard University. Selama
periode ini beliau mengajar di Tufts College dan menjadi asisten laboratorium dan guru di Harvard College.
Di Harvard Fred Simmons Keller memiliki
teman dari behavioris psikolog yang bernama Burrhus
Frederic Skinner dan mereka juga tinggal bersamai Diantara para pendukung
Amerika pertama behaviorisme yang menekankan peran lingkungan dan acara budaya
media sebagai pembentuk perilaku manusia.
Pada tahun 1931, beliau meninggalkan Harvard dan bekerja selama tujuh tahun sebagai
instruktur Psikologi di Universitas Colgate dan pada 1932 beliau berserai dan
menikah lagi pada tahun 1936 dengan wanita yang bernama Mrs Frances Scholl dan
memiliki dua anak yang bernama Anne dan John V. Keller.
Pada tahun 1937, ia menulis buku pertamanya Definisi Psikologi (Definisi
Psikologi) dan 1938 menerima instruktur beasiswa di Columbia University, di mana
ia memegang berbagai posisi hingga pensiun.
Pada tahun 1940 mengembangkan teknik pedagogis
baru untuk mengajar kode Morse untuk militer, didasarkan pada penelitian ke
dalam perilaku pada tahun 1943 Angkatan
Darat AS secara resmi mengadopsi teknik ini.
Pada tahun 1950 diterbitkan Prinsip Psikologi (Principles
of Psychology), beliau bekerja sama dengan William N. Schoenfeld, kemudian pada tahun 1954 beliau belajar tentang teori
pembelajaran
yaitu pengembangan dari
analisis eksperimental perilaku dan transmisi penekanan pada metode eksperimen.
Pada tahun 1961 beliau datang ke Brazil
sebagai profesor tamu di Universitas São Paulo (USP) dan menetap satu tahun di
Brazil dan
pada tahun 1964
untuk mengajar di University of Brasilia (UNB), di mana ia tetap hanya beberapa
bulan. kemudian
pada tahun 1964, setelah
26 tahun bekerja beliau pension ketika ia menerima gelar Profesor Emeritus
Psikologi.
Setelah pensiun, ia bekerja tiga tahun ke
depan di Arizona State University, di mana ia terus mengembangkan Sistem Personalized Instruksi (PSI), PSI adalah metode pembelajaran
pedagogis secara individu yang diawasi oleh guru yang berpengalaman dan
memiliki dampak yang signifikan terhadap pendidikan sains di tingkat
universitas.
Pada tahun 1967 ia bekerja di Institute for Behavioral Research in Silve Spring, Maryland yang masih
menerapkan sistem pernyataan PSI dan pada tahun 1968 beliau menghabiskan dua
tahun sebagai dosen tamu di Departemen Psikologi di Western Michigan University
Pada tahun 1974 Fred Simmons Keller pergi ke Georgetown University, menjadi
konsultan untuk Personalized lnstruksi dan Distinguished Visiting Psikolog dan tahun 1976
tinggal di Chapel Hill . Di kota
ini, didedikasikan hampir secara eksklusif untuk menulis dan berpartisipasi
dalam berbagai pertemuan ilmiah.
Fred Simmons Keller meninggal pada tanggal 2
Februari 1996 saat berusia 97 tahun, di Chapel Hill, North Carolina.
B.
Teori
Yang Dikemukakan Fred Simmons Keller
Belajar
menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diamati, sedangkan perilaku dan
belajar dapat diubah oleh kondisi lingkungan. Tingkah laku bukanlah sekedar
respon terhadap stimulus, tetapi merupakan suatu tindakan yang disengaja atau
operant. Operant ini dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya.
Jadi
operant conditioning atau operant lerning itu melibatkan pengendalian
konsekuensi. Tingkah laku ialah perbuatan yang dilakukan seseorang pada situasi
tertentu.
Tingkah laku ini terletak diantara dua pengaruh yaitu pengaruh yang
mendahuluinya (antecedent) dan
pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi).
Modifikasi
perilaku menggunakan
teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku seseorang, seperti
mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan.
Salah satu cara untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku
dalam memberikan pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan; rasio lima
pujian untuk setiap satu keluhan yang umumnya dipandang sebagai efektif dalam
mengubah perilaku dalam cara yang dikehendaki dan bahkan menghasilkan kombinasi
stabil. Prinsip penguatan yang menerangkan pembentukan, memelihara, atau
penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan.
Metode-metode operant conditioning mencakup: perkuatan
positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, dan
pencontohan. Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada
mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan
sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. Penghapusan, adalah apabila suatu respons terus-menerus
dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan
demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan
terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang
maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu.
Penguatan berguna untuk memperkuat perilaku tertentu yang diharapkan. Penguatan
dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Penguatan yang positif
Kalau penyajian satu kejadian yang mengikuti sebuah operan
meningkatkan kemungkinan bagi operan itu untuk muncul dalam situasi yang sama,
psikolog menyebutkan untuk proses dan konsekuensi ini sebagai penguatan
positif. Konsekuensi atau akibat yangditimbulkannya juga disebut penguatan
positif.
2. Penguatan yang negative
Kalau penghapusan satu kejadian yang mengikuti sebuah operan
meninggikan kemungkinannya bahwa operan akan muncul dalam situasi yang sama,
maka untuk proses dan konsekuensi yang muncul dinamakan penguatan negatif.
Konsekuensi/akibat yang ditimbulkannya juga dinamakn penguat negatif. Psikolog
membedakan ada dua jenis penguatan negatif , yaitu kondisioning lari (escape)
dan kondisioning menghindar (avoidance). Selama terjadinya kondisioning
melarikan diri, frekuensi dari operan ditingkatakan dibawah pengaruh keadaan
yang sama, karena hal itu akan menghentiakan kejadian yang berjalan terus.
Sedangkan selama terjadinya kondisioning menghindar, frekuensi dari operan
menjadi naik/tinggi dalam satu keadaan tertentu, karena operan itu menunda atau
mencagah munculnya suatu kejadian (yang dianggap tidak menyenagkan).
Penguat positif dan negatif seringkal
dibedakan menjadi dua pembagian yang umum yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Sebuah penguat dikatakan intrinsik bilaman perilaku yang akan diperkuat itu
telah diperkuat oleh dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, respons itu sndiri
sudah merupakan sumber dan perasaan nyaman, dan tindakannya itu secara otomatis
diperkuat setiap kali muncul. Beberapa perilaku yang berbeda mugkin secara
intrinsik mempunyai sifat memperkuat.
Sebagian besar dari perilaku yang
dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-harinya tidaklah secara
intrinsik merupakan hal yang memperkuat (reinforcing), tetapi lebih banyak
diperkuat oleh konsekuensi yang datang dari luar dirinya, yang eksternal atau
ekstrinsik. Secara
intrinsik, kejadian yang memuaskan seperti itu dapat dipergunaka untuk
mengajarkankebiasaan lainnya. Kegiatan yang dapat memuaskan rasa ingin tahu,
atau menyediakan rangsang indra merupakan satu penguat yang kuat terhadap
respons manusia.
Penguat intrinsik tegantung kepada orang lain seringkali dinamakn sebagai
penguat sosial. Mungkin beberapa penguat sosial bukanlah hal yang dipelajari,
sedangkan lainnya dipelajari. Tampaknya besar kemungkinannya bahwa manusia
dilahirkn sudah membawa nilai untuk tersenyum, memeluk dan mengucapkan dengan
nada menghibur, tidak menyulai tanda ketegangan dan teriakan. Pada waktu yang
bersamaan, orang juga belajar untuk menghargai ungkapan kata yang memuji-muji
misalnya bagus atau hebat. Memang penguat sosial ini cenderung untuk secara
luar biasa mempengaruhi modifikasi perilaku manusia.
Operant conditioning memiliki unsur rangsangan atau stimuli
respond an konsekuensi. Stimuli (tanda/syarat)
bertindak sebagai pemancing respon, sedangkan konsekuensi tanggapan dapat
bersifat positif atau negatif, namun keduanya memperkukuh atau memperkuat (reinforcement). Banyak
respon yang tidak hanya dipancing stimuli tetapi dapat dikondisikan pada
stimuli lain. Respon ini adalah kategori perilaku pertama, disebut respondent behavior karena perilaku muncul sebagai respon
atas stimuli. Selanjutnya dapat muncul kategori perilaku kedua (perilaku yang
tidak dipancing stimuli), yang disebut operant behavior, sebab telah dikerjakan
oleh pembelajar.
Generalisasi adalah pola merespon yang
dilakukan individu terhadap lingkungan atau stimuli serupa, sedangkandiferensiasi adalah
pola merespon individu dengan cara mengekang diri untuk tidak merespon karena
ada perbedaan antar dua situasi serupa meski tidak sama, yang sebenarnya sesuai
direspon. Menggeneralisasi berarti merespon situasi serupa, sedangkan mendeferensiasi
berarti merespon dengan cara membedakan antara situasi saat dua respon identik
yang tidak sesuai dimunculkan.
Prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning secara sederhana
adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi hal-hal apa yang
merupakan reinforcer (hadiah)
bagi tingkah laku yang akan dibentuk.
2. Menganalisis, dan selanjutnya
mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang
dimaksud. Komponen-komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju
kepada terbentuknya tingkah laku yang dimaksud.
3. Berdasarkan urutan komponen-komponen
itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce (hadiah) untuk
masing-masing komponen itu.
4. Melakukan pembentukan tingkah laku,
dengan menggunakan urutan komponen-komponen yang telah disusun. Kalau komponen
pertama telah dilakukan maka hadiahnya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan
komponen tersebut cenderung untuk sering dilakukan. Kalau ini sudah terbentuk
dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (komponen pertama
tidak lagi memerlukan hadiah). Demikian berulang-ulang sampai komponen kedua
itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya
sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk.
Dalam kehidupan sehari-hari orang serungkali tidak menyadari
bahwa dia telah melaksanakan aturan kondisioning operan ini. Banyak individu,
seperti misalnya dalam keluarga Teller saling mengajarkan sesuatu pada anggota
keluarga lainnya tanpa mereka menyadarinya.
Penerapan Operant Conditioning dalam
pendidikan dikemukakan oleh Fred Keller (1968) dengan judul kegiatan self-paced learning.
Guru merancang mata pelajaran yang dilengkapi bahan bacaan untuk dikaji
pebelajar. Ketika pebelajar merasa siap diuji, ia menempuh tes agar lulus pada
penggalan belajar yang telah ditempuhnya. Jika lulus, ia maju kepenggalan
berikutnya. Jadi pebelajar sendiri yang menetapkan kecepatan dan jangka waktu
belajarnya.
Program-program Keller menggabungkan prosedur-prosedur
pembelajaran modifikasi tingkah laku. Program tersebut menekankan kepada
individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi
yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa
dalam mencapai tujuan, modifikasi prosedur-prosedur pembelajaran didasarkan
kepada hasil evaluasi-evaluasi tersebut dan penggunaan penguatan-penguatan
positif (positif reinforcement) secara sistematis untuk merangsang dan menjaga
kemajuan yang diinginkan. Selain itu para pengajar dapat menggunakan diskusi
kelompok kecil dan presentasi kelompok besar pada saat-saat tertentu selama
kursus berlangsung.
Keller pernah menerapkan metode operant conditioning di
salah satu Universitas di Brazil pada sebuah kelompok kursus. Pada waktu itu
seluruh mahasiswa pada saat pertemuan diberi penjelasan secara terperinci
mengenai kursus tersebut. Mereka diberi tahu bahwa mereka akn belajar menurut
kecepatan masing-masing selama kursus. Mungkin bagi beberapa siswa untuk
menyelesaikan kursus tersebut kurang dari satu semester, sedangkan lainnya
lebih dari satu semester. Tingkat dari kursus didasakan kepada jumlah unit yang
telah mereka peroleh. Terdapat suatu kombinasi tugas-tugas bacaan bebas di
proyek laboratorium. Juga diadakan pertemuan reguler dengan siswa ang telah
menyelesaikan kursusnya, kemudian diminta mendemonstrasikan ketrampilannya
dalam rangka membantu siswa- siswa yang sedang belajar, mengadakan kontak
dengan asisten laboratorium, berdiskusi dalam kelompok kecil yang juga
mengikuti kuliah khusus yang dipilih dan demonstrasi-demonstrasi.
Kursus-kursus untuk satu semester dipecah menjadi 30 unit
yang tersusun dari tugas-tugas rumah dan latihan di laboratorium. Para siswa
dituntut untuk lulus tes ketuntasan pada setiap unit sebelum mereka melanjutkan
ke unit berikutnya. Mereka yang tidak lulus tes ini disarankan untuk mengambil
remedial dari unit tersebut. Kuliah khusus dan demonstrasi dilangsungkan
apabila sejumlah mahasiswa telah lulus dari suatu unit dan mempersiapkan diri
ikut kuliah khusus atau demonstrasi tersebut. Mereka tidakwajib mengikuti
kegiatan ini, sifatnya hanya untuk memotivasi siswa-siswa dan memungkinkan siswa
untuk mengadakan explorasi - explorasi pada bidang - bidang yang diminatinya.
Tes materi dilaksanakan sampai siswa telah merasa menguasai
suatu unit tertentu. Umpan balik segera diberikan dari hasil tersebut dan
informasi ini digunakan untuk mendiagnosa kesulitan-kesulitan belajar siswa.
Yang paling penting adalah tes yang diberikan pada setiap akhir unit dari 30
unit itu digunakan untuk menentukan apakah siswa telah menguasai isi dari unit
tersebut atau belum.
Keller
menunjukkan pula bahwa peranan guru pada programnya sangat beda dengan
kelas-kelas tradisonal. Ia mencirikan bahwa guru-guru konvensional sering
bertindak sebagai “pembuat atraksi di kelas (classroom entertainer), expositor,
critic dan debator”. Sebaliknya Keller menjelaskan bahwa guru-gurunya terutama
bertindak sebagai educational engeneers dan sebagai manager contingency bagi
seluruh siswanya dan tidak hanya sebagai fasilitator yang sukses bagi sejumlah
kelas siswa, seperti halnya dalam kelas tradisional.
Hasil-hasil yang didapat keller dan kawan-kawannya yang
menggunakan pendekatannya. Dalam beberapa hal sesuai dengan prosedur-prosedur,
siswa-siswa diberikan ujian yang sama seperti yang dilakukan kepada sekelompok
siswa pada suatu kursussekolah tradisional. Tidak seperti pada kursus
tradisional tadi dimana skor siswa diperoleh dalam distribusi normal, prosedur
Keller memberikan hasil suatu perbandingan skor A dan B yang tinggi, yang lebih
penting lagi siswa-siswa Keller juga secara konsisten telah sukses mencapai
tujuan-tujuan pendidikan yang ditentukan.
Selain itu dia mengatakan bahwa siswa-siswanya sangat
menyenangi pengalaman-pengalaman pendidikannya dan telah merasakan bahwa mereka
telah mencapai pengertian lebih mendalam tentang isi/materi daripada yang
dicirikan oleh pengalaman-pengalaman pada kelas tradisional.
Keller menyatakan bahwa siswa dapat bertindak lebih baik
didalam kelasnya daripada yang diperkirakan. Hal ini bisa terjadi apabila kita
dengan cermat menetukan tujuan pendidikan secara sistematis menggunakan tes-tes
untuk memberikan umpan balik bagi siswa sesuai dengan kemajuannya menuju tujuan
belajar mereka. Keller menyarankan bahwa kuncinya terletak pada penyajian
contingency dan reinforcement yang tepat/benar.
Teori pembelajaran operant conditioning ini juga memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari teori operant conditioning ini adalah:
- Siswa bisa benar – benar
memahami suatu pelajaran
- Siswa lebih termotivasi untuk mengembangkan
kemampuannya
- Siswa tidak merasa tertekan dan
bisa belajar dengan tenang
Sedangkan
kekurangan dari teori operant conditioning ini adalah:
- Tidak bisa memastikan kapan
siswa bisa benar – benar memahami pembelajaran
- Terjadi kesenjangan waktu antar
siswa dalam memahami pelajaran
- Ada kemungkinan terdapat siswa
yang menyepelekan materi pelajaran
C.
Implikasi
Teori Fred Simmons Keller
Aplikasi
teori ini dalam pembelajaran, bahwa dalam kegiatan pembelajaran pendidik
memberikan arahan kepada peserta didik untuk berfikir cepat dan tepat. Selain
itu, pendidik juga dapat menggunakan metode pembelajaran yang bisa mengubah
kebiasaan peserta didik menjadi lebih baik. Pendidik seharusnya juga dapat
memperhitungkan antara rangsang yang diberikan terhadap respons peserta didik.
Apabila tidak mampu dilakukan dalam satu kali pemberian rangsangan maka harus
dilakukan beberapa kali sampai tujuan untuk mengubah kebiasaan peserta didik
dapat tercapai. Seperti misalnya, mengubah kebiasaan peserta didik yang malas
menjadi rajin. Kemudian dilakukan evaluasi untuk menentukan besarnya
keberhasilan dan dampak yang ditimbulkan dari metode yang diterapkan tersebut
Beberapa
aplikasi teori belajar Keller dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.
Bahan yang dipelajari dianalisis
sampai pada unit-unit yang terkecil
2.
Hasil belajar harus segera
diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan
3.
Hadiah diberikan setelah
menyelesaikan tugas
4.
Dalam pembelajaran menggunakan
metode diskusi atau presentasi
5.
Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan
tingkah laku yang baik
6.
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya
7.
Memberi bimbingan kepada siswa
khususnya kepada siswa yang belum bisa memahami materi yang diberikan
8.
Tidak memaksakan kemampuan berfikir
cepat kepada siswa
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Operant conditioning atau operant
lerning itu melibatkan pengendalian konsekuensi. Tingkah laku ialah perbuatan
yang dilakukan seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku ini terletak diantara
dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuensi).
Modifikasi perilaku menggunakan teknik perubahan perilaku
untuk memperbaiki perilaku seseorang, seperti mengubah perilaku individu dan
reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan. Salah satu cara untuk memberikan
dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan pujian,
persetujuan, dorongan, dan penegasan.
Program-program Keller menggabungkan prosedur-prosedur
pembelajaran modifikasi tingkah laku. Program tersebut menekankan kepada
individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi
yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa
dalam mencapai tujuan, modifikasi prosedur-prosedur pembelajaran didasarkan
kepada hasil evaluasi-evaluasi tersebut dan penggunaan penguatan-penguatan
positif (positif reinforcement) secara sistematis untuk merangsang dan menjaga
kemajuan yang diinginkan. Selain itu para pengajar dapat menggunakan diskusi
kelompok kecil dan presentasi kelompok besar pada saat-saat tertentu selama pembelajaran
berlangsung.
Keller menyatakan bahwa siswa dapat bertindak lebih baik
didalam kelasnya dari pada yang diperkirakan. Hal ini bisa terjadi apabila kita
dengan cermat menetukan tujuan pendidikan secara sistematis menggunakan tes-tes
untuk memberikan umpan balik bagi siswa sesuai dengan kemajuannya menuju tujuan
belajar mereka. Keller menyarankan bahwa kuncinya terletak pada penyajian
contingency dan reinforcement yang tepat/benar.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber:
http://www.artikelkedokteran.com/774/terapi-perilaku.html
https://www.facebook.com/notes/henrikus-yorath/psikoterapi-terapi-perilaku-behaviour-
